Kisahku dan Zidny
Hai perkenalkan aku Amanda
Zharifa, umurku 12 tahun, aku anak pertama dari 3 bersaudara rumahku di Jl.
Anggrek No. 21 Bogor. Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah di SMPN
Anggrek Bogor setelah aku menyelasaikan Ujian Nasional di SD. Oiya aku lupa
memperkenalkan adikku yaitu Zidny Maliq, tepatnya dia adalah kembaranku kata
mama selisih kelahiran kami 1 jam 5 menit, kata mama cukup lama hampir saja
adikku tidak tertolong karna lama proses persalinannya tapi Alhamdulillah Zidny
lahir dengan selamat dan yang terakhir yaitu Arafah Hanggum. Aku dan Zidny
tidak kembar seiras karna mungkin kita kembar cewek – cowok dan perwatakan kita
juga tidak sama tapi menurutku kita itu cuek satu sama lain tapi kita saling
menyayangi.
Tiba disekolah kami
langsung menuju kelas kami masing-masing, “Deluan yah Zid” kataku, “iya” kata Zidny
dengan nada datar. “Tadi siapa nda, temen kenalan kamu?” kata Astri, “Bukan,
dia adikku tepatnya dia adalah kembaranku”,
“Wah seneng yah punya kembaran gitu” kata Astri, “Biasa aja, yaudah yuk
masuk kelas” kataku. Bel berbunyi saatnya istirahat, aku dan teman-temanku
langsung menuju kantin, dan aku melihat Zidny dan temannya yang sedang
mengobrol, dari kejauhan dia sudah melihatku, tapi saat aku melewatinya, dia
diam saja wajar saja karna dia cowok hehe. Dan tidak lama bel masuk.
Jam 1 pun tiba saatnya
pulang sekolah, aku dan Zidny pulang berdua, sampai dirumah, “Assamualaikum”
kataku dan bZidny, “Walaikumsalam sudah pulang ganti bajunya makan siang yah”
kata mama, “Iya mah” kataku. “Nda ada PR ini ga?” kata Zidny, “Belum dibahas”
kataku sambil makan siang, “Oh beda-beda yah” katanya, “Iya kali” kataku.
Keesokan harinya tiba
disekolah “Nda besok kita ke taman yuk kan hari minggu kita lari pagi” kata
Astri dan Dwi, “Yuk, kita kumpul dimana nih” kataku, “Kumpul didepan gang aja
yah” kata Dwi, “Siap” kataku dan Astri.
Sesampainya dirumah
“Assamualaikum” kataku, “Walaikumsalam, kaka, aa udah pulang” kata adikku Arafah,
“Iya dong” kataku. “Nda, jagain adiknya dulu yah mama mau kepasar” kata mama sambil
siap-siap mau kepasar, “Iya” kataku. Saat aku bermain dengan adikku Ara dihalaman
tiba-tiba Ara terjatuh langsung saja Zidny menghampiri “Gimana sih kalo main
hati-hati” dengan nada tegas dan sambil mengelap lutut Ara, “Iya” kata Ara, manurutku sih aneh yah marah tapi sambil
ngelapin lututnya Ara.
Keesokan harinya, aku,
Astri dan Dwi lari pagi ke taman, Astri dan Dwi terus bertanya mengenai aku dan
Zidny yang kembar, aku sih tidak terlalu risih dengan pertanyaan mereka karna
waktu aku dan Zidny saat di SD pun banyak pertanyaan seperti itu. Tidak lama
hujan pun turun kami pun langsung bergegas pulang, saat sampai di gang aku
sudah melihat Zidny yang sedang memegang payung “Makanya kalo main itu inget
waktu, kalau mau hujan langsung pulang” katanya dengan nada marah dan sambil
memayungiku, “Iya ini juga udah pulang” kataku.
Keesokan harinya saat
masuk sekolah ternyata hari ini Zidny tidak masuk sekolah karna sakit, aku
berpikir mungkin sakitnya dia karna kemarin hujan-hujanan saat menunggu dan
memayungiku, aku jadi ga enak dengan dia dan merasa kesepian karna aku
berangkat sendiri. Bel pulang pun berbunyi “ Assamualaikum” kataku
“Walaikumsalam, Nda nanti ambilin adiknya Zidny makan yah” kata mama “Iya”
sambil nada males, aku pikir kok aku sih baru juga pulang sekolah tapi ya
sudahlah. “Zid nih makannya” sambil menaruh makanan ke Zidny, tapi dia malah
main PS “Kok main PS sih, lagi sakit juga, nanti ga sembuh-sembuh” kataku “Ini
juga udahan, habisnya bosen”. Setelah 2 hari Zidny ga masuk akhirnya dia masuk
juga, tapi keesokan harinya saat sekolah malah aku yang sakit mungkin karna
cuacanya yang berubah-ubah jadi ga baik untuk kesehatan.
Tiba-tiba Zidny langsung
masuk kamar “Nih nda buku matematikanya dari Astri” kata Zidny “Iya makasih
yah” saat aku ga masuk sekolah Zidny lah yang suka memberikan informasi
pelajaran sekolah kepadaku agar aku tidak ketinggalan belajar. Keesokan harinya
aku dan Zidny seperti biasa masuk sekolah “Kok bisa bergilir gitu yah sakitnya
abis Nda lalu ke Zidny” kata Dwi “Hehe gatau tuh” kataku, “Oh iya makasih yah
Dwi dan Astri kamu kasih buku kalian ke Zidny saat aku ga masuk sekolah” kataku
“Itu mah Bima nya yang minta katanya biar kamu ga ketinggalan pelajaran” kata
Astri, wah aku bersyukur sekali punya Adik yang satu sekolah tepatnya
kembaranku Zidny, dia perhatian sekali.
Sesampainya dirumah aku
melihat Arafah, mama dan ayah sedang menonton tv bersama, aku langsung bertanya
“Kok bisa sakit barengan gitu yah mah nda sama zidny?” kataku “Iya emang kalo
kembar tuh, waktu kecil kalian juga gitu malah gamau terpisahkan kalau satunya nangis
pasti yang satu lagi nangis” kata ayah “Iya karna kalau kembar itu punya
perasaan sebatin dan punya keistimewaan yang ga dimiliki adik kaka lainnya”
kata mama. Aku baru tahu kalau kembar seperti itu, aku pikir punya kembaran itu ga
enak karna pasti jadi pertanyaan orang lain terus suka berantem deh tapi
ternyata tidak, aku dan Zidny saling menyanyangi walaupun kami cuek
pasti rasa kepedulian, rasa sayang kami sangat kuat dan menurutku cara kita
menyanyangi sesorang itu berbeda-beda tidak harus selalu perhatian, baik setiap
saat contohnya aku dan Zidny walaupun kami cuek tapi kami saling peduli dan
menyanyi satu sama lainnya yang penting seseorang yang kami sayang mengetahui
bahwa kami sayang kepadanya. Selesai.
Nama : Diva Kirana Yopanka
Nim : H.1510276
Kelas : A1 Semt 6
Bagus menarik sekali ceritanya
BalasHapus👍👍👍👍👍
BalasHapusGood Job 👍
BalasHapusGood
BalasHapus